SEJARAH DESA

Menurut sejarah dan legenda yang disampaikan sesepuh dan tetua yang ada, desa Plakaran sudah ada sejak tahun 1853, atau 162 tahun yang lalu dengan ditandai adanya makam Ki Mangkunegara dan Ki Sokanegara keduanya adalah prajurit kerajaan Majapahit yang sedang menjalankan tugas ke daerah bawahan kerajaan Majappahit namun wafat dan dimakamkan di sebuah hutan yang sampai sekarang dinamakan Candi Lunggi. dan Cand Lunggi sampai sekarang masih  banyak dikunjungi oleh orang-orang yang mau berziarah ke makam Ki Mangkunegara dan Ki Sokanegara. Pada suatu hari warga daerah tersebut membendung sungai sampai kering untuk mencari ikan, kemudian membongkar kembali aliran sungai tersebut maka terjadi  banjir bandang dan memporak-porandakan daerah kekuasaan raksasa, melihat kejadian tersebut raja raksasa marah dan mengutus prajuritnya untuk melihat apa yang terjadi dan setelah tahu terjadinya banjir bandang karena ulah warga yang mencari ikan, maka utusan raja raksasa mengamuk membabi buta dan membunuh siapa saja yang ditemuinya, kemudian kedua prajurit Majapahit yang sedang bertugas di daerah tersebut mendengar telah terjadi geger raja pati, dimana ada dua raksasa mengamuk. Ki Mangkunegara dan Ki Sokanegarpun turun tangan untuk menghadapi kedua raksasa dan dua raksasa tersebut kalah, melarikan diri dan melaporkan kejadian tersebut kepada rajanya, dengan kesaktian raja raksasa beserta permaisurinya dengan sekejap sudah sampai daerah tersebut, maka terjadilah pertempuran hebat antara Ki Mangkunegara, Ki Sokanegara dan raja raksasa. dengan senjata pusaka lunggi raja raksasa kalah dengan kondisi kepala terpisah dengan badannya, Kemudian Ki Mangkunegara melempar kepala raja raksasa ke arah timur sambil berkata “sapa wong pengin dunya brana raja kaya mas berlian paranen mahkota mau” artinya siapa orang yang ingin kaya banyak emas, berlian maka ambillah mahkota itu. Melihat suaminya terbunuh permaisuripun melawan Ki Mangkunegara dan Ki Sokanegara dan akhirnya kalah dan meraih rambut sang permaisuri dan dilempar ke sungai dengan berkata “kali iki tak jenengi kali rambut, sapa wonge sapa wonge sing adus ning kali iki awake pada borak barik kaya disabet rambut” yang artinya sungai ini dinamakan sungai rambut, siapa saja yang yang mandi di sungai ini badannya borak barik seperti disabet rambut.  Setelah keadaan aman kedua prajurit Majapahit tersebut berkata “mbesuk rejahing jaman daerah iki tak jenengi PLAKARAN” artinya besok daerah ini saya beri nama PLAKARAN.

Menurut sejarah Perkembangan desa, dengan Kepala Desa:

Tahun (1943-1949)  Somarejo sebagai Kepala Desa

Tahun (1949-1970)  Suromiharjo sebagai Kades, Somarejo sebagai Sekdes

Tahun (1970-1973)   Suromiharjo sebagai Kades, Somarejo sebagai Sekdes

Tahun (1973-1983)   H. Imron Rosyidi sebagai Kades, Disma sebagai Sekdes

Tahun (1983-1992)   H. Imron Rosyidi sebagai Kades, Disma sebagai Sekdes

Tahun (1992-1999)   Kusnadi sebagai Kades, Disma sebagai Sekdes

Tahun (1999-2006)   Gustomi sebagai Kades, Mustiyadi sebagai Sekdes

Tahun (2006-2012)   Gustomi sebagai Kades, Mustiyadi sebagai Sekdes

Tahun (2012-Sekarang)   Nur Laelah sebagai Kepala Desa terpilih